Selasa, 28 Juni 2016

makalah hukum adat maluku

Makalah 
Hukum Adat Di Maluku 
Hasil gambar untuk djuanda ciawi

Disusun Oleh:
Moh.Reza Al Mutahahar 
Nim:E.



Nama Dosen : Noerwhatie 




Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum 
Universitas Djuanda Ciawi Kab.Bogor 
Tahun 2016

Kaata Pengantar 
Puji syukur ke hadirat ALLAH SWT. yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga makalah SISTEM BUDAYA INDONESIA yaitu tentang “Hukum Adat MALUKU” ini dapat dipahami sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, atas bimbingan Beliau sehingga kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Ucapan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah SISTEM BUDAYA INDONESIA yang telah memberikan kami kesempatan untuk membuat makalah ini sebagai pedoman, acuan, dan sumber belajar.
Akhir kata, kami sebagai penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan baik dari segi bahasa, tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah  ini, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya.
 Bab I
pENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 

Maluku merupakan salah satu profinsi bahari di Indonesia karena sembilan puluh persen dari luas daerahnya merupakan lautan. Sebagian besar masyarakat Maluku hidup sebagai nelayan. Sehingga Maluku merupakan penghasil ikan terbesar di Indonesia.
Komoditi perikanan menjadi salah satu komoditi unggulan. Dengan kekayaan laut itu maka muncul pasar ikan sebagai tempat jual beli ikan yang selalu ramai setiap harinya.
Persepsi masyarakat tentang pasar ikan adalah tempat yang kotor dan bau sehingga pembeli tidak merasa nyaman untuk berbelanja. Tanpa disadari kekayaan laut merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki yang seharusnya dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Selain itu Maluku memiliki budaya leluhur yang masih dipegang teguh dalam masyarakatnya.Oleh Karena itu,Ragam budaya di daerah maluku sungguh unik dalam mempelajari nya 
1.2 Rumusan Masalah 
-Sejarah Maluku
-Bagaimana Sistem Pengetahuan Di daerah Maluku
-Sistem Kemasyarakatan Maluku 
-Apa Kesenian Yang ada di maluku
- Sistem Perekonomian Maluku 
 1.3 Tujuan 
Makalah ini dibuat bertujuan agar kita mengetahui lebih dalam tentang ragam budaya             Indonesia, dan jenis kebudayaan yang dimiliki setiap daerahkhususnya budaya masyarakat Maluku.
 1.4 Manfaat 

- Agar mahasiswa mengetahui berbagai macam tradisi dan kebudayaan
Maluku
- Agar meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap budaya-budaya di Indonesia Dan Mengetahui Hukum nya  
Bab II
Isi 
2.1 Sejarah 
 
         Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain kedaerah ini.
          Pada abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Konstatinopel. Abad ke-14 adalah merupakan masa perdagangan rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai 1400.
           Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku. Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Dimasa Dinas Ming (1368 – 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon cengkih – sebuah oase ditengah laut sebelah tenggara. Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra.

Era Portugis

          Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d’Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat – seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon.Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.
             Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama.
Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.

Era Belanda

         Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku.
              Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segan-segan mengusir pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang Maluku menjadi korban kebrutalan VOC.
          pada permulaan tahun 1800 Inggris mulai menyerang dan menguasai wilayah-wilayah kekuasaan Belanda seperti di Ternate dan Banda. Dan, pada tahun 1810 Inggris menguasai Maluku dengan menempatkan seorang resimen jendral bernama Bryant Martin. Namun sesuai konvensi London tahun 1814 yang memutuskan Inggris harus menyerahkan kembali seluruh jajahan Belanda kepada pemerintah Belanda, maka mulai tahun 1817 Belanda mengatur kembali kekuasaannya di Maluku.

Pahlawan

            Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang diberi gelar Kapitan Pattimura, seorang bekas sersan mayor tentara Inggris.
Pada tanggal 15 Mei 1817 serangan dilancarkan terhadap benteng Belanda ”Duurstede” di pulau Saparua. Residen van den Berg terbunuh. Pattimura dalam perlawanan ini dibantu oleh teman-temannya ; Philip Latumahina, Anthony Ribok, dan Said Perintah.
Berita kemenangan pertama ini membangkitkan semangat perlawanan rakyat di seluruh Maluku. Paulus Tiahahu dan putrinya Christina Martha Tiahahu berjuang di Pulau Nusalaut, dan Kapitan Ulupaha di Ambon.
           Tetapi Perlawanan rakyat ini akhirnya dengan penuh tipu muslihat dan kelicikan dapat ditumpas kekuasaan Belanda. Pattimura dan teman-temannya pada tanggal 16 Desember 1817 dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan, di Fort Niew Victoria, Ambon. Sedangkan Christina Martha Tiahahu meninggal di atas kapal dalam pelayaran pembuangannya ke pulau Jawa dan jasadnya dilepaskan ke laut Banda.

Era Perang Dunia Ke Dua

              Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jendral Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh , melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang.
             Tentara Jepang tidak banyak kesulitan merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara melalui pulau Morotai dan dari timur melalui pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang. Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II, tentara Australia sempat bertempur melawan tentara Jepang di desa Tawiri. Dan, untuk memperingatinya dibangun monumen Australia di desa Tawiri (tidak jauh dari Bandara Pattimura).
                  Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan Propinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali sistem pemerintahan colonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang kaya dengan rempah-rempahnya ini – bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan kedaulatan pada tahun 1949 – dengan mensponsori terbentuknya “Republik Maluku Selatan” (RMS).

2.2  Sistem pengetahuan daerah maluku

Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas adalah salah satu provinsi tertua di Indonesia. Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.
Maluku memiliki sejarah yang panjang mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama kurang lebih 2300 tahun lamanya dengan didominasi secara berturut-turut oleh bangsa Arab, Portugis, Spanyol dan Belanda serta menjadi daerah pertempuran sengit antara Jepang dan Sekutu pada era Perang Dunia ke II.
Para penduduk asli Banda berdagang rempah-rempah dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Cina, paling tidak sejak zaman Kekaisaran Romawi. Dengan adanya kemunculan agama Islam, perdagangan didominasi oleh para pedagang Muslim. Salah satu sumber kuno Arab menggambarkan lokasi dari pulau ini berjarak sekitar lima belas hari berlayar dari Timur 'pulau Jaba' (Jawa)namun perdagangan langsung hanya terjadi hingga akhir tahun 1300an. Para pedagang Arab tidak hanya membawa agama Islam, tetapi juga sistem kesultanan dan mengganti sistem lokal yang dimana didominasi oleh Orang Kaya, yang disamping itu lebih efektif digunakan jika berurusan dengan pihak luar.
Melalui perdagangan dengan para pedagang Muslim, bangsa Venesia kemudian datang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Eropa antara 1200 dan 1500, melalui dominasi atas Mediterania ke kota pelabuhan seperti Iskandariyah (Mesir), setelah jalur perdagangan tradisional mulai terganggu oleh Mongol dan Turki. Dalam menunjang monopoli ini kemudian mereka ikut serta dalam Abad Eksplorasi Eropa. Portugal mengambil langkah awal penjelajahan dengan berlayar ke sekitar tanjung selatan benua Afrika, mengamankan rute-rute penting perdagangan, bahkan tanpa sengaja menemukan pantai Brazil dalam pencarian ke arah selatan. Portugal akhirnya sukses dan pembentukan daerah monompolinya sendiri dan memancing keukasaan maritim lain seperti Spanyol-Eropa, Perancis, Inggris dan Belanda untuk mengganggu posisinya.
Karena tingginya nilai rempah-rempah di Eropa dan besarnya pendapatan yang dihasilkan, Belanda dan Inggris segera terlibat dalam konflik untuk mendapatkan monopoli atas wilayah ini. Persaingan untuk memiliki kontrol atas kepulaiuan ini menjadi sangat intensif bahakn untuk itu Belanda bahkan memberikan pulau Manhattan (sekarang New York), di pihak lain Inggris memberikan Belanda kontrol penuh atas kepulauan Banda. Lebih dari 6.000 jiwa di Banda telah mati dalam perang rempah-rempah ini. Dan dikemudian hari, kemenangan atas kepulauan ini dikantongi Kerajaan Belanda.
Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Musik lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam di Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik. Terbukti pada beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling yang mencirikan alat musik gurun pasir.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulu pun mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas. Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.
Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.
2.3sistem Kemasyarakatan Maluku 

Sebagaimana yang telah ditaksirkan oleh Tuhan, manusia itu senantiasa hidup berkelompok sebagai makhluk sosial. Kelompok-kelompok itu lalu membentuk suku-suku atau klen-klen.
ü  Berikut adalah beberapa ”Sanitri” atau pejabat tradisional dalam kehidupan sosial masyarakat Suku Ambon :
1)      Tuan Tanah :Seseorang yang ahli dalam bidang pertanian dan kependudukan
2)      Kapitan :Seseorang yang ahli dalam peperangan
3)      Kewang :Seseorang yang bertugas menjaga hutan
4)       Marinyo :Seseorang yang bertugas memberikan berita dan pengumuman
*      Perkawinan
Perkawinan di Ambon nampak sudah menerobos ketentuan-ketentuan adat. Penerobodan ini dipake sebagai jalan dan pilihan oleh kedua pengantin lelaki dan perempuan. Bahkan sanksi-sanksi adat bukan lagi merupakan penghalang untuk penerobosan itu, karena mereka mau dan berani memikul resikonya. Walaupun masih tampak hanyalah sekedar memenuhi formalitasmenurut adat, sedangkan hakekatnya adalah guna melaksanakan apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh calon suami istri.
v  Bentuk-bentuk perkawinan di Ambon:
1)      Kawin minta bini
Peneyebutan lain kawin ini adalah Kawin dengan meminang. Perkawinan ini dilakukan setelah keduanya sudah saling berjanji untuk kawin kemudian pihak jejaka mengirim utusan untuk mendatangi pihak perempuan meminta atau melamar anak perempuan bekal istrinya disertai dengan membawa bawaan sebagai oleh-oleh untuk membuka pembicaraan. Saat itulah dimusyawarakan tentang besar mas kawin yang disebut dengan harta dan waktu pelaksanaan perkawinannya.
2)      Kawin lari bini
Kawin lari bini maksudnya adalah kawin lari. Perkawinan ini dilakukan oleh sejoli dengan lari bersama dengan alasan menghindari kekecewaan dan malu karena rencana perkawinannya ditolak. Si gadislah yang meninggalkan rumah orang tuanya. Tidak ada paksaan atau ancaman dari si jejaka. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan sepakat bersama dengan meninggalkan surat di tempat tidur si gadis atau orang tuanya yang menerangkan dengan siapa dan ke tempat mana dia pergi.
3)      Kawin ambil anak
Sesuai dengan namanya, perkawinan ini di lakukan dengan menjadikan menantu sebagai anak sendiri maka tentu si suami masuk ke dalam kerabat si istri dan wajib baginya melepaskan fam asalnya menjadi memakai fam kerabat si istri. Hal ini merupakan adopsi yang tidak murni karena berbeda dengan pengertian adopsi pada umumnya yaitu mengangkat anak orang lain menjadi anak sendiri bukan yang berstatus suami. Perkawinan ini dilakukan dengan alasan bahwa suami adalah pendatang baru atau orang asing sehingga perkawinan jenis ini bisa dikatakan seperti kawin nyalindung kagelung di daerah Jawa Barat yang berarti suami mencari perlindungan kepada istrinya.
4)      Kawin tanpa harta kawin
Pengantin menikah melalui perkawinan yang sah tanpa adanya pembayaran uang jujur yang disebut harta dan sebagai imbalannya suami harus menyerahkan seorang anaknya yang laki-laki kepada mertuanya dan memakai fam mertuanya itu.
5)      Kawin ambil piara
Jenis kawin ini disebabkan atas toleransi adat terhadap pasangan yang sudah hidup bersama tetapi belum berstatus kawin sah. Si pria diizinkan tinggal serumah beserta anak perempuannya atas kehendak orang tua si perempuan sampai menghasilkan anak. Menurut mereka hal ini merupakan sesuatu yang lumrah. Setelah menghasilkan anak, baru diadakan perkawinan.
      Organisasi Desa
Berikut beberapa contoh organisasi kemasyarakatan suku Ambon tentunya dengan tujuan dan fungsi sodial yang berbeda di kehidupan masyarakat:
     Organisasi Patasiwa dan Patalima
Patasiwa berarti Sembilan bagian dan Patalima berarti Lima bagian. Organisasi ini terbentuk untuk menghimpun kekuatan politik.
Patasiwa dan patalima muncul dikarenakan kepercayaan sebagai nenek moyang terdahulu orang Ambon terhadap tiga putra bersaudara dari pulau Seram yang selamat dari banjir bandang namun ketiganya terpisah. Patasiwa dan Patalima hidup dalam kerjasama sosial dan ekonomi
2  Jojaro
Organisasi yang anggotanya terdiri dari pemudi-pemudi yang sudah dewasa tetapi yang belum kawin atau bisa disebut juga organisasi kewanitaan.
3  Ngungare
Perkumpulan-perkumpulan pemuda yang belum nikah atau bisa disebut dengan organisasi kepemudaan.
4    Pela
Persatuan-persatuan persahabatan antara warga-warga dari dua desa atau lebih yang berdasarkan adat serta kewajiban membantu dan bekerjasama dalam bahaya atau kesusahan.
Pembagian Pela ada 2 macam:
      Pela Keras: kerjasama antar Soa yang bertugas membantu dalam hal peperangan atau bahaya serangan dari pihak lain. Perkawinan antara anggota-anggota dari satu pela keras dilarang keras. Hal ini diyakin karena sebuah sejarah yang saat itu tengah mengadakan sumpah janji untuk menjadi kesatuan bersahabat dengan meminum bersama segelas darah dari tetesan jari tangan mereka. Sumpah janji ini berhubungan dengan insiden persaingan memperluas kekuasaan dan penaklukan sekitar pulau Seram antara kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailol
  Pela Tempat Sirih: bertugas bantu membantu dan bergotong royong dalam pembangunan balai desa, gereja, masjid, atau sekolah. Berbeda dengan Pela keras, Pela tempat sirih wajib menerima bila ada seorang anggota se-pela menginap di rumah, bahkan larangan menikah antara anggota se-pela tempat sirih tidak keras. Istilah “tempat sirih” asal dari suatu adat kuno untuk menyajikansirih kepada tamu.
 
2.4 seni Maluku  
 
 A. Musik
Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.

Musik lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam di Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik. Terbukti pada beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling, yang mencirikan alat musik gurun pasir.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulupun, mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang, terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.


B. Tarian 
Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai). Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.

Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.
 
2.5 Perekonomian Maluku  
 
Pertumbuhan ekonomi provinsi Maluku mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2014 lalu.

Sekretaris Daerah Maluku, Antonius Sihaloho kepada sejumlah wartawan di Kantor Gubernur Maluku, Kamis (31/12/2015) sore mengungkapkan, pelambatan pertumbuhan ekonomi provinsi Maluku disebabkan oleh beberapa faktor.

“Permasalahan pertumbuhan ekonomi Maluku yang melambat ini karena dipengaruhi pelambatan ekonomi nasional,” kata Antonius.

Selain itu kata Antonius pelambatan ekonomi Maluku juga dipicu oleh menurunnya ekspor perikanan Maluku akibat diberlakukannya moratorium oleh Kementrian Perikanan.

Ditambah, menurunnya harga komoditas dunia serta menurunnya permintaan dari Negara China yang selama ini menjadi Negara tujuan ekspor.

”Eskpor perikanan Maluku menurun karena adanya moratorium.Kita tahu bersama bahwa salah satu ekspor terbesar di Maluku yakni dari sektor perikaan,” ungkapnya.

Dia menerangkan di tahun 2014, tingkat pertumbuhan ekonomi Maluku mencapai 6,7 persen atau diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Namun ditahun 2015 pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan hingga 5,27 persen. “Untuk triulan 3 di tahun 2015 ini tingkat pertumbuhan ekonomi Maluku sebesar 5,23 persen dan pertumbuhan ini tentu masih sangat baik jika dibandingkan dengan daerah lain yang hanya 4 persen, kita diatas 5 persen,”ungkapnya. Terkait pelambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, dia mengatakan kedepan pemerintah provinsi Maluku akan Mendorong perepatan pembangunan infrastruktur dan perbaikan kualitas SDM serta produktifitas tenaga kerja. “Peningkatan daya saing industry melalui peningkatan produksi bernili tambah dan menciptakan pusat-pusat pertumnuhan ekonomi baru akan terus ditingkatkan kedepan,”katanya. Diatmbahkan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui UMKM dan KUR serta menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kepastian hukum kedepan akan lebih diperhatikan untuk menarik minat investasi menanamkan modalnya di Maluku. “Karena tanpa investasi pertumbuhan Maluku akan ikut melambat, jadi untuk itu tata kelola agraria untuk menjamin kepastian hukum bagi pemilik lahan dan kemudahan pelayanan perizinin (PTSP) akan dimudahkan kedepan,”ungkapnya. (KTR)
 
Bab III
Penutup
 
3.1 Kesimpulan 
 
Kaya akan ragam seni budaya sudah semestinya Indonesia berbangga, maka sudah selayaknya bagi bangsa dan masyarakat negeri ini untuk melestarikan dan menjaga ragam seni budaya yang ada di Indonesia ini. Karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi...? Juga tidak lupa mari kita panjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Tuhan Maha Esa yang telah memberi kesehatan dan keselamatan pada kita sebagai masyarakat yang memiliki cipta rasa tinggi dan sebagai negara yang berbudi luhur. Sebagai mana yang telah dikaruniakannya kepada masyarakat kita, yaitu sebuah daya kreatifitas tinggi yang diciptakan mulai dari nenek moyang kita hingga generasi muda sekarang. Telah banyak berbagai adat istiadat serta ragam seni budaya yang menjadikan bangsa ini memiliki kekayaan atribut serta kepribadian istimewa dimuka dunia.
Berbicara masalah ragam seni budaya Indonesia pasti tidak akan pernah ada habisnya. Mengingat begitu banyaknya ragam seni budaya yang terdapat mulai dari Sabang sampai Merauke. Pulau-pulau  di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa yang semuanya memiliki ragam seni budaya masing. Tapi semua terangkum menjadi satu yaitu sebuah ragam seni budaya yang ber- “BHINEKA TUNGGAL IKA”  dengan menunjukkan adat ketimuran dan berazaskan Pancasila.
Jadi tidak mustahil jika banyak hasil cipta rasa dan karya dalam berbagai adat dan ragam seni budaya yang dimiliki bangsa Indonesia ini selalu dilirik oleh bangsa lain.

1 komentar:

  1. HIS Graha Elnusa
    Hubungi : 0822 – 9914 – 4728 (Rizky)
    Menikah adalah tujuan dan impian Semua orang, Melalui HIS Graha Elnusa Wedding Package , anda bisa mendapatkan paket lengkap mulai dari fasilitas gedung full ac, full carpet, dan lampu chandeliar yg cantik, catering dengan vendor yang berpengalaman, dekorasi, rias busana, musik entertainment, dan photoghraphy serta videography. Kenyaman dan kemewahan yang anda dapat adalah tujuan utama kami.

    BalasHapus